Tadabbur Surah Shad ayat 8: Bebal, Tidak Mengindahkan Tanda-Tanda

Kita harus senantiasa mawas terhadap tanda-tanda peringatan yang ada di sekitar kita. Ini bisa berupa apapun: ayat yang dibacakan, nasihat orang tua, saran istri, pendapat anak buah, data yang kamu baca, peristiwa yang terjadi, dsb.

أَءُنزِلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِن بَيۡنِنَا ۚ بَلۡ هُمۡ فِى شَكٍّ مِّن ذِكۡرِى ۖ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ

Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku. (QS Sad: 8)

Para pemuka elit Quraish mempertanyakan: kalau memang peringatan ini benar, mengapa bukan diturunkan kepada mereka? [Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?] Sedangkan mereka lebih tinggi kedudukannya, lebih banyak hartanya, lebih luas pengetahuannya.

Kelakuan mereka itu sudah sampai batas dimana Allah langsung memotong omong kosong mereka dengan mengatakan bahwa sesungguhnya mereka sama saja tidak percaya kepada peringatan-Nya [Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku].

Jika sampai seseorang dikatakan kepadanya, “belum tahu rasa kamu!”. Artinya kelakuan orang tersebut sudah pada batas dimana harus diberi pelajaran.

Kira-kira di tingkat itulah kedurhakaan mereka [Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku].

Masalahnya, jika mereka sudah sampai merasakan azab, artinya semua sudah terlambat. Tidak ada lagi kesempatan bertaubat. Mereka sudah mengabaikan sekian banyak tanda dan peringatan yang didatangkan ke hadapan mereka.

Sebagai perbandingan, ada orang yang dengan membaca spanduk “Utamakan keselamatan. Ingat anak istri di rumah” kemudian dia sadar untuk tidak ugal-ugalan. Ada yang setelah melihat orang lain celaka, baru tersadar. Ada juga yang harus sampai benar-benar celaka dulu baru sadar. Itu pun jika dia masih selamat.

Kita harus senantiasa mawas terhadap tanda-tanda peringatan yang ada di sekitar kita. Ini bisa berupa apapun: ayat yang dibacakan, nasihat orang tua, saran istri, pendapat anak buah, data yang kamu baca, peristiwa yang terjadi, dsb.

Janganlah kita jadi orang bebal, yang satu-satunya cara agar sadar adalah dengan cara kena batunya. Masih bagus jika setelah kena batunya kita masih bisa memperbaiki. Bagaimana jika tidak ada lagi kesempatan?

Subscribe to Jurnal Qur'an

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe