Tadabbur Surah Shad 6-7: Keangkuhan Intelektual

Keangkuhan intelektual, sebuah sikap sombong dan merendahkan orang lain karena merasa lebih berpengetahuan daripada mereka.

أَجَعَلَ ٱلۡءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (QS Sad: 5)
وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىۡءٌ يُرَادُ

Lalu, pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. (QS Sad: 6)
مَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِى ٱلۡمِلَّةِ ٱلۡءَاخِرَةِ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا ٱخۡتِلَٰقٌ

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Ajaran mengesakan Allah) ini tidak lain kecuali (dusta) yang dibuat-buat. (QS Sad: 7)

Mereka, kaum elit Quraisy yang kafir, juga merasa heran bagaimana mungkin ada ajaran agama yang menganggap bahwa Tuhan hanya satu saja? Mereka merasa paling tahu, tidak mungkin ada pengetahuan baru kecuali mereka sudah mengetahui sebelumnya [Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir].

Inilah keangkuhan intelektual, sikap sombong dan merendahkan orang lain karena merasa lebih berpengetahuan daripada mereka.

Tanpa disadari, mereka menjadi close-minded. Menutup diri dari pengetahuan baru hanya karena mereka belum mengetahui itu sebelumnya.

Alih-alih memikirkan, merenungkan, atau merespon dengan argumen yang jelas, mereka mengambil jalan pintas dengan menganggap bahwa pengetahuan baru tersebut adalah “settingan” atau konspirasi [Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki].

Kemudian mereka memprovokasi orang-orang agar tidak mau mendengarkan pesan Nabi Muhammad saw [Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu].

Jebakan keangkuhan intelektual seringkali muncul ketika kita merasa memiliki otoritas atas pengetahuan: “saya doktor”, “saya bersertifikat”, “saya berpengalaman puluhan tahun”, “saya senior”, “saya ustadz”, “saya ngaji”, dsb.

Jangan sampai keangkuhan menghalangi kita dari kebenaran. Karena itu, patutlah kita senantiasa mawas diri dan bersikap kritis terhadap diri kita sendiri.

Subscribe to Jurnal Qur'an

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe