Tadabbur Surah Shad ayat 4: Keangkuhan Sosial

Kelompok elit Quraish merasa heran, bagaimana mungkin ada orang yang diutus sebagai rasul dari kaum mereka tapi bukan dari kelompok mereka.

وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنۡهُمۡ ۖ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٌ كَذَّابٌ

Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.” (QS Sad: 4)

Kelompok elit Quraish merasa heran, bagaimana mungkin ada orang yang diutus sebagai rasul dari kaum mereka tapi bukan dari kelompok mereka. Padahal mereka lebih terpandang. Lebih tinggi status sosialnya. Pikir mereka, jika memang kerasulan itu benar, pastilah mereka yang dipilih.

Alih-alih memikirkan dan merenungkan pesan yang disampaikan (pesan tauhid), mereka sejak awal sudah menutup diri. Sebabnya, sang penyampai pesan dianggap “tidak layak” dalam pandangan mereka.

Yang mereka lakukan malah menyerang pribadi Nabi Muhammad saw. Dituduhlah beliau sebagai penyihir dan pendusta [Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta]. Ad hominem.

Disini kita melihat bagaimana keangkuhan bisa membuat seseorang tertutup dari kebenaran. Karena itu, janganlah kita merasa lebih tinggi, atau lebih benar, dari orang lain hanya karena kita memiliki status sosial yang lebih tinggi. Jabatan, kekayaan, keturunan, gelar pendidikan, itu semua tidaklah hakiki.

Tips: ketika mendengar sesuatu dari orang lain, fokuslah pada apa yang disampaikannya bukan pada siapa yang menyampaikan. Bisa jadi yang disampaikan itu benar walaupun dari orang yang dianggap "bukan siapa-siapa".

Subscribe to Jurnal Qur'an

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe