Tadabbur Surah An-Naml ayat 20-45: Pelajaran Kepemimpinan dari Nabi Sulaiman as dan Hud-Hud
Pelajaran dari kisah Nabi Sulaiman dan Hud-Hud seringkali berpusat pada Hud-Hud, si prajurit, terutama pelajaran tentang pentingnya inisiatif, kedisiplinan, dan ketaatan. Yang lebih jarang dibahas adalah pelajaran dari sisi kepemimpinan. Apa saja?
Qur'an surah An-Naml ayat 20-45 merupakan ayat yang populer, mengisahkan peristiwa yang dimulai dengan ketidakhadiran burung Hud Hud pada apel yang diadakan oleh sang raja, Nabi Sulaiman as. Ternyata dia terlambat datang karena dalam perjalan dia menemukan ada suatu kerajaan yang masih menyembah selain Allah. Singkat cerita, Nabi Sulaiman menjalankan misi diplomatik yang berakhir dengan masuk Islamnya sang ratu dari kerajaan tersebut beserta para pengikutnya.
Pelajaran yang dari kisah tersebut seringkali berpusat pada burung Hud Hud, si prajurit, terutama pelajaran tentang pentingnya inisiatif, kedisiplinan, dan ketaatan. Yang lebih jarang dibahas adalah pelajaran dari sisi kepemimpinan. Apa saja?
1. Self-awareness terhadap blind spot (introspeksi)
Saat menginspeksi barisan burung dan tidak melihat ada Hud Hud, yang dikatakan Nabi Sulaiman adalah مَا لِىَ لَآ أَرَى (mengapa aku tidak melihat...), bukan, misalnya, "mengapa Hudhud tidak datang..". Jadi yang dipertanyakan pertama kali adalah dirinya sendiri sebelum orang lain. Ini menunjukkan attitude kepemimpinan yang penting, yaitu self-awareness terhadap blind spot. Dia selalu mawas diri terhadap kesalahan atau pertimbangan yang mungkin luput ketika mengambil keputusan, dan senang ketika orang lain, termasuk bawahannya, menunjukkan padanya apa yang dia luput.
2. Membina bawahan yang paham terhadap misi, bukan sekedar taat instruksi (mission understanding over instruction)
Karena Hud Hud paham apa misi kekuasaan Sulaiman as, yaitu menyebarkan agama tauhid di muka bumi, dia tahu bahwa memata-matai kerajaan Saba lebih perlu untuk dilakukan dalam upaya mencapai misi, meskipun harus hadir terlambat di pertemuan, dan walaupun tanpa ada perintah dari sang raja. Tanpa ada kepahaman, mustahil Hud Hud bisa memiliki pertimbangan yang tepat dalam mengambil inisiatif. Mungkin dia hanya akan memenuhi instruksi hadir di pertemuan rutin tapi tanpa disadari melewatkan sesuatu yang besar.
3. Menciptakan safe space
Hud Hud mempunyai inisiatif dan berani untuk menjalankannya. Agar bawahan berani memiliki inisiatif, pemimpin perlu menciptakan safe-space untuknya. Safe-space adalah "area" dimana bawahan merasa aman untuk untuk mengambil resiko tanpa merasa takut disalahkan. Istilahnya: psychological safety. Pemimpin yang baik akan merasa khawatir ketika bawahannya tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya akan membuat organisasi kehilangan kesempatan yang besar atau gagal menghindari bahaya.
4. Political will adalah kunci
Hud Hud memang punya inisiatif, tapi kunci dari keberhasilan besar di kisah ini adalah political will dari Nabi Sulaiman as yang menindaklanjuti temuan Hud Hud menjadi misi diplomatik yang didukung sumber daya yang besar. Beliau menindaklanjuti dengan mengirimkan surat resmi, menunjukkan kekuatan militer, dan memindahkan singgasana Ratu Bilqis hingga .
5. Pengaruh dibangun melalui integritas terhadap misi, bukan kepentingan
Ketika dikirimi surat dari Sulaiman as yang menyeru pada tauhid, Ratu Bilqis terlebih dahulu menguji Nabi Sulaiman as dengan mengirimkan upeti, untuk mengetahui apakah ini murni karena misi tauhid atau hanya kepentingan kekuasaan. Ketika seorang pemimpin mengambil keputusan, semua orang akan menilainya berdasarkan hal apa yang di
6. Mencari solusi terbaik
Pemimpin yang baik menciptakan lingkungan dimana ide yang dimenangkan bukan yang datang dari yang jabatannya paling tinggi, tapi yang secara objektif paling baik. Istilahnya: “best idea wins”. Sulaiman mencari cara terbaik memindahkan singgasana Bilqis. Beliau berkata “Siapakah di antara kamu yang akan membawakan singgasananya kepadaku?”. Ifrit menyanggupi sebelum Sulaiman berdiri. Tapi itu kalah dengan orang berilmu yang sanggup memindahkan sebelum Sulaiman berkedip.
7. Daya tarik manusiawi
Pemimpin perlu megupayakan daya tarik yang membuktikan bahwa dia memang layak untuk diikuti. Sulaiman as melakukan berbagai upaya untuk membuat Bilqis terkesan. Pertama, dia memindahkan singgasana Bilqis sebelum dia sampai. Kedua, singgasana tersebut di-upgrade dan diletakkan di sebuah mahligai dengan lantai kristal yang sangat bening sampai-sampai Bilqis terkesima dan mengira itu adalah air. Semua itu dilakukan Sulaiman untuk menunjukkan bahwa dia bukan sekedar raja biasa dan karena itu dia layak untuk diikuti oleh Bilqis.
Bilqis kemudian berkata وَأَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَيۡمَٰنَ لِلَّهِ (aku berserah diri bersama sulaiman kepada Allah). Kata “bersama Sulaiman” sejatinya menunjukkan bahwa Bilqis mengikuti Sulaiman bukan karena Sulaiman-nya, tapi karena ide/konten/gagasan yang dibawa oleh Sulaiman, yaitu tauhid kepada Allah. Tapi kata “bersama Sulaiman” juga menunjukkan bahwa Bilqis tergugah dan menerima kebenaran melalui daya tarik yang diupayakan Sulaiman.