Tadabbur Surah Al-Jinn ayat 4-5: Berpikiran Terbuka dan Kritis

Kita diajarkan untuk bersikap terbuka (open-minded) tapi juga kritis disaat yang bersamaan.

Berpikiran terbuka

وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا

Sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah (ayat 4)

Perkataan yang tidak karuan tentang Allah timbul dari sifat safih (سَفِيهُ), yang berarti bebal, atau menutup pintu untuk mendengar apalagi memikirkannya. Perkataan semisal Tuhan memiliki anak, memiliki istri, memiliki sekutu, ini semua tidak masuk akal kalau kita hendak berpikir menggunakan akal sehat.

Meskipun demikian tak masuk akalnya, mereka tetap berpegang pada yang salah karena sifat bebal tadi. Semua nasihat, peringatan, dan kebenaran yang datang padanya tidak didengar. Didengar pun tidak, apalagi mencoba memikirkannya.

Ini mengajarkan kita untuk menghindari sifat safih. Berpikirlah terbuka dan siap menerima kebenaran darimana pun datangnya.

Bersikap kritis

وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا

Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.” (ayat 5)

Mereka (sekumpulan jin) itu dulunya mengira bahwa apa-apa yang mereka dengar tentang Allah itu semuanya benar. Sebabnya, mereka mengira tidak mungkin ada yang berani berkata bohong tentang Allah. Setelah mendengar Al-Quran, barulah mereka mengetahui bahwa persangkaan mereka sebelumnya itu salah.

Ini mengajarkan kita untuk tidak menerima mentah-mentah apa kata orang, termasuk yang “sudah dari dulunya begitu”. Sebaliknya, pikirkanlah dengan akal sehat dan logika. Periksa dahulu kebenaran dari pesan yang disampaikan.

Subscribe to Jurnal Qur'an

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe