Tadabbur Surah Al-Insyirah: Saat Kita Dihantam Masalah dan Hilang Arah
Terinspirasi dari surah ini, berikut ini beberapa poin penting sebagai tuntunan bagi kita dalam menghadapi masa-masa sulit.
Bagi saya, surah ini berkesan terutama ketika mengalami kesulitan dalam hidup, baik itu dalam studi, pekerjaan, keluarga, atau pun urusan lainnya. Kali ini saya mencoba merenungi lebih dalam dan merefleksikannya dengan pengalaman, pemikiran, dan perasaan dalam realitas sehari-hari.
Pertama-tama, kita perlu memahami dulu apa konteks situasi saat surah ini diturunkan, yaitu pada masa-masa awal Muhammad saw diutus menjadi seorang nabi dan rasul. Saat beliau mulai mendakwahkan Islam, kaumnya memberikan reaksi penentangan yang keras. Bukan hanya tidak menerima ajaran beliau, kaum Quraisy juga memberikan berbagai tekanan dan intimidasi kepada beliau agar berhenti menyebarkan ajaran Islam. Hal ini membuat beliau sangat kesulitan dan terkekan dalam berdakwah. Di tengah kesulitan itu, Allah menurunkan wahyu berupa surah Al-Insyirah untuk menentramkan hati beliau.
Terinspirasi dari surah ini, berikut ini beberapa poin penting sebagai tuntunan bagi kita dalam menghadapi masa-masa sulit.
Mengingat kebaikan Allah di masa yang lalu
أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ, وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ, ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” (QS Al-Insyirah ayat 1-3)
Dalam kondisi sulit dalam dakwah Nabi Muhammad saw, Allah mengingatkan kembali tentang kebaikan yang telah Dia berikan kepada beliau melalui pertanyaan di ayat 1-3, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?”.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Jika kita menghadapi masalah, ingat-ingatlah kebaikan apa saja yang telah Allah berikan kepada kita saat menghadapi kesulitan di masa lalu. Ini juga berarti kita berprasangka baik kepada Allah. Dengan begitu, kita akan semakin bersyukur dan insyaAllah menguatkan iman kita.
Sebagai contoh, ketika kita sedang menghadapi masalah keuangan yang berat, ingatlah bagaimana Allah telah memberikan rezeki dan jalan keluar pada masa-masa sulit sebelumnya. Atau jika kita merasa kehilangan arah dalam hidup, kita bisa mengingat kembali bagaimana Allah telah memberikan petunjuk dan membimbing kita pada masa-masa sebelumnya.
Menemukan sense of purpose
Kembali ke ayat “dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?”. Beban apakah yang dimaksud?
Sebelum menjadi nabi, beliau sangat gelisah mencari kebenaran hakikat dan merasa khawatir akan kondisi kaumnya yang penuh dengan kebodohan, masalah moral, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Kegelisahan tersebut membuat beliau semakin sering menyendiri di gua untuk merenung. Pada suatu malam di Gua Hira, Malaikat Jibril mendatangi dan menurunkan wahyu pertama kepada beliau.
Dengan diberikannya wahyu itu, Allah menghapus beban yang dirasakan beliau. Beban yang begitu berat, seakan meretakkan punggung beliau. Beban ini dihilangkan melalui wahyu yang menjelaskan kebenaran dan hakikat hidup.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Menemukan hakikat hidup dan hakikat kebenaran itu penting bagi jiwa kita. Pada dasarnya, menemukan hakikat hidup berarti menemukan sense of purpose, yaitu perasaan bahwa hidup kita memiliki arti dan arah yang jelas. Inilah yang menimbulkan ketenangan dalam hidup, atau yang dalam istilah psikologi, disebut inner peace.
Tanpa sense of purpose, seseorang cenderung merasa hampa, kehilangan arah, dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan masalah psikologis lainnya.
Memulihkan rasa keberhargaan diri
وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ
"dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu?" (QS Al-Insyirah ayat 4)
Di ayat ke-4, Allah mengingatkan Rasulullah saw, bagaimana nama beliau ditinggikan dan dimuliakan. Setiap kali nama Allah disebut, disebut juga nama Muhammad Rasulullah saw. Misalnya, pada bacaan tahiyyat, adzan, syahadat, dan sebagainya.
Walaupun kaum yang menentang beliau merendahkan dan menghina namanya dengan sebutan pembohong, orang gila, dan tukang sihir, Allah tetap meninggikan nama beliau hingga menjadi sangat mulia. Kini, banyak orang menyebut namanya sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada beliau.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Ketika seseorang berulang kali dihina, direndahkan, dan difitnah, perasaan rendah diri akan muncul. Mereka cenderung merasa tidak berharga, tidak cukup baik, dan kurang percaya diri. Hal ini juga membuat mereka membandingkan diri dengan orang lain, merasa tidak sepadan, dan mudah merasa insecure.
Jadi, sangat penting untuk memulihkan rasa keberhargaan diri terlebih dahulu, baik dari sisi spiritual maupun psikologis. Secara spiritual, kita harus menjalin hubungan dengan Allah dan kembali meyakini bahwa kita adalah makhluk yang mulia di mata-Nya. Sedangkan secara psikologis, langkah penting yang harus diambil adalah mencari dukungan dari orang terdekat, menemukan lingkungan yang positif, dan menjauh dari lingkungan yang toxic.
Menjaga optimisme
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا, إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al-Insyirah ayat 5-6)
Kata "مَعَ" (ma'a) artinya "bersama", bukan "sesudah". Ini berarti kesulitan dan kemudahan selalu datang bersamaan. Setiap ada kesulitan, selalu ada sisi kemudahan yang menyertainya.
Selain itu, kata "kesulitan" disampaikan dengan alif-lam (العُسْرُ) yang mengacu pada kesulitan spesifik, sementara "kemudahan" disampaikan tanpa alif-lam, yang menunjukkan kemudahan yang tak terbatas. Artinya, setiap kesulitan spesifik akan selalu diiringi oleh banyak kemudahan yang dapat ditemukan.
Tambah lagi, frasa tersebut diulang dua kali. Kata kesulitan (العُسْرُ) pada kalimat kedua masih merujuk pada kesulitan yang sama dengan kalimat pertama. Namun, kata kemudahan (يُسۡرًا) pada kalimat kedua tidak harus merujuk pada entitas yang sama dengan kalimat pertama. Hal ini mengisyaratkan bahwa jumlah kemudahan yang diberikan lebih banyak daripada kesulitan yang dihadapi.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Di tengah kesulitan yang kita hadapi, kita harus terus menjaga optimisme. Kita harus terus mencari kesempatan, sekecil apapun, untuk keluar dari kesulitan tersebut dan bahkan memutarbalikkan keadaan menjadi lebih baik.
Namun perlu juga kita sadari bahwa mencari kesempatan di tengah kesulitan biasanya baru optimal jika dada sudah agak lapang. Masalah-masalah psikologis fundamental seperti kehilangan sense of purpose dan keberhargaan diri perlu diselesaikan terlebih dahulu agar seseorang dapat mulai berpikir lebih positif terhadap masa depannya.
Menjaga keseimbangan
فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ
"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka berdirilah (untuk beribadah)" (QS Al-Insyirah ayat 7)
Faragh (فَرَغۡ) artinya telah selesai dari suatu pekerjaan. Rasulullah saw menjalani pekerjaan yang berat di siang hari dalam berdakwah kepada kaumnya. Itu benar-benar melelahkan jiwa beliau.
A-nshab (ٱنصَبَ) artinya perintah untuk mendirikan atau menegakkan. Maksudnya disini adalah mendirikan shalat atau beribadah. Bisa juga dimaknai dengan menegakkan atau mengangkat kembali semangat yang terkulai atau terjatuh.
Jika dirangkai, maka kalimatnya kira-kira seperti ini, jika sudah selesai dengan pekerjaanmu yang melelahkan itu, maka lanjutkanlah dengan berdiri untuk beribadah agar jiwamu yang lelah itu kembali tegak. Ini dilakukan sebagai suatu siklus yang tidak berhenti. Disinilah masuk tafsir ayat yang bermakna jika telah selesai suatu urusan, segera kerjakan urusan yang lain.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Kita perlu menyeimbangkan antara bekerja dengan beribadah dalam siklus aktifitas keseharian kita. Umumnya di siang hari kita disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang melelahkan dan menguras energi kita. Ini perlu dilanjutkan di malam harinya dengan ibadah yang me-recharge kembali energi jiwa kita. Lakukanlah ini sebagai siklus yang tidak pernah berhenti.
Kalau kita perluas konteksnya, maka kita akan menemukan makna keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan. Misalnya, antara memenuhi hajat orang lain dengan memenuhi kebutuhan diri sendiri. Antara urusan dunia dengan urusan ibadah. Antara memperhatikan kebutuhan fisik dan kebutuhan mental.
Keseimbanganlah yang akan membuat kita bisa berjalan jauh dan mencapai tujuan. Jika kita terlalu fokus pada suatu aspek dan mengabaikan aspek lainnya, kita akan patah dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Menjaga orientasi
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب
"dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (QS Al-Insyirah ayat 8)
A-rghab (ٱرۡغَب) artinya memusatkan perhatian pada apa yang diharapkan. Maksudnya, dalam semua aktivitas yang kita lakukan fokuslah kepada mengharapkan hanya ridha Allah. Kita mengaitkan kebahagiaan dan tujuan tertinggi hanya kepada Allah.
Ini tuntunan yang diberikan kepada Rasulullah saw dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dalam dakwah beliau.
Apa yang bisa kita refleksikan dari ini? Apapun kondisi yang kita alami, sebisa mungkin kita menjaga orientasi tujuan dan fokus kita hanya kepada Allah. Ini lebih mudah diucapkan daripada dikerjakan. Semangat kita naik-turun. Sebagai manusia, wajar kita merasa down, kecewa, sakit hati sebagaimana wajar kita merasa bahagia.
Lalu bagaimana cara kongret dari menjaga orientasi? Kita bisa menanyakan dua pertanyaan refleksi kepada diri sendiri secara terus-menerus:
Pertama, apakah niat dan tindakan saya sejalan dengan tuntunan dan aturan yang Allah dan Rasul-Nya gariskan?
Kedua, apakah yang saya lakukan semuanya murni untuk mengharapkan ridha Allah?
Dengan menanyakan pertanyaan di atas secara berkala, kita dapat mengevaluasi tindakan dan pikiran kita apakah masih berada pada jalur yang benar. Jika melenceng, segera kita koreksi. Sebagai manusia, tidak mungkin kita tidak pernah melenceng. Yang perlu dilakukan adalah terus mengawasi diri kita sendiri dan segera kembali ke track jika melenceng.